091714200_1490794869-rois-ahok.JPG

Hakim menanyakan prihal kasus dugaan penistaan agama yang menjadi terkait pada pilkada DKI Jakarta, adapun ucapan terdakwa yang menjadi permasalahan sampain saat ini ialah pengutipan surat Al-Maidah yang dilakukan oleh terdakwa. Pada sidang pertama dugaan penistaan agama oleh terdakwa Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, terdakwa meminta Ahli Agama islam sekaligus Rois Syuriah PBNU Masdar FArid Mas’udi untuk menerangkan terkait kasus tersebut.

Dalam auditorium Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan hakim berujar ” sebagai seorang ki’ai yang dianggap ahli prihal agama kasus ini sebenarnya ada masalah pada pemilihan Gubernur yang salah satu calonnya adalah non muslim atau perkataan terdakwa yang dilakukan diwaktu lalu?”. Kasus ini muncul setelah adanya video pidato dari Ahok yang menyinggung surat Al-Maida di pulau seribu pada september 2016 lalu menurut Masdar sendiri hal ini lah yang menyebabkan kasus penistaan agama ini bergulir ke meja sidang.

Video karya tersangka Buni Yani yang menjadi awal mula pemicu persidangan penistaan agama ini. Pada video tersebut jelas adanya pemotongan kata yang dilakukan tersangka yang mengakibatkan gagal pahamnya orang lain. Namun persidangan yang kian panjang membuat berbagai persepsi muncul dikalangan masyarakat. Karena permasalahan ini muncul setelah Pilkada DKI sudah mendekati masanya, ada pun indikasi politik guna menjatukan seseorang dengan hal seperti ini menjadikan tanda tanya pada warga.

Menurut Masdar,” menurut pandangan saya saat ini kita harus melihat konteksnya seperti apa, jika dilihat saat ini pastinya kita akan melihat lawannya ini akan memakai ini sebagai senjata untuk melawannya”. Hakim membenarkan perkataan Masdar saat itu juga, menurut hakim sendiri saat ini banyak kita terima laporan dari pihak kepolisian dimana pelaporan itu terhadap Ahok yang datang kebanyakan dari luar daerah seperti Makasar, Bogor dan Jawa Barat.

Melihat hal ini Masdar menyimpulkan, bahwa demo yang belakangan ini terjadi dan kerap di kepalai oleh ormas ormas yang mengatas namakan islam sebagai dasar mereka ada kaitannya dengan politik yang terjadi saat ini di ibukota Jakarta. Hakim kembali bertanya pada Masdar, ” apakah hal ini ada keterkaitanya politik dengan hal yang terjadi saat ini? “.

” Menurut saya dia yang menggunakan hal ini dalam proses Pilkada, data surveri saja tidak ada gimana kita bisa mengambil kesimpulan ,” ujar Masdar.

Masdar sendiri tidak dapat memastikannya karena belum adanya data data dari survei saat ini. Masdar sendiri berpendapan adanya indikasi yang dilakukan oleh lawan politiknya saat ini. Hakim diminta bijak dan jeli dalam mengambil keputusan dimana nantinya keputusan hakim ini lah yang menentuka masa depan dari Wajah Ibukota.

Advertisements