publik-puas-dengan-penampilan-anies-sandi-di-debat-pilkada-dki-putaran-kedua-kRY0lFRNSH.jpg

Saat ini KPU DKI Jakarta tengah berusaha menggabungkan beberapa bentuk debat untuk dimasukan pada debat putaran kedua ini namun hal ini diangggap gagal. Burhanudin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indo Barometer menilai bentuk dari penerapan yang diberikan oleh KPU DKI Jakarta tertalu ribet atau bisa dibilang terlalu bercampur aduk dengan hal hal yang lain sehingga hal ini akan mengurangi pemahaman penonton nantinya. KPU DKI Jakarta sedang berusaha menggali lagi format debat head to head antar masing masing pasangan calon. Nantinya KPU DKI Jakarta akan menambahkan bentuk debat yang menghadirkan perwakilan dari masyarakat dan komunitas.

“ Bentuk debat seperti ini hanya akan meminimalisir dampak terke jutnya dari debat tersebut jika debat ini memiliki repetisi yang terlalu banyak efek efek kejutnya jadi terminimaslisir, pada debat ini terlalu mencampur adukan sisi town hall meeting dengan menggali gagasan dan subtansi namun hasil yang bisa kita lihat hanyalah ke gagalan saja terjadi. Gagal menjadi town hall itu meeting itu sendiri, gagal menggali dan akhri dari debat itu jauh dari prediksi awalnya yang menginginkan kesempurnaan debat,” ujar Burhanudin pada diskusi Debat Final Pilkada.

Jawaban dari tiap pasangan calon yang tidak terlihat original pada debat ini menjadi kegagalan pada debat ini karena terlalu banyaknya prosedur protokoler yang melebihi batasan yang bisa membuat debat ini hidup. “Seharusnya debat yang diselenggarakan ini dapat membawa bahan yang berada diluar dari konsep namun semakin banyaknya konsep yang diberikan membuat debat ini menjadi kaku, kurangnya pemahan diluar dari konsep visi dan misi pasangan calon itu sendiri,” ujar Burhanudin.

Menurut Burhanudin, Direktur Eksekutif Charta Politika  Yunarto Wijaya menggunakan konsep debat biasa , head to head dan town hall meeting. Hal di nilai terlalu memaksakan konsep yang ada pada debat, apa lagi penekana terhadap konsep town hall meeting menjadi terkesan seperti diatur agar debat ini mengarah pada suatu tujuan.

“ Seharusnya dengan adanya komunitas yang ada dapat membuat debat ini hidup dan dapat menambahkan pertanyaan pertanyaan yang menjadi pertanyaan masyarakat saat ini,” ujar Yunarto. Debat pada konsep head to head ini terkesan terlalu dipaksakan pada debat ini. Menurut Yunarto sendiri Konsep yang terlalu dipaksakan seperti ini menjadi terkesan debat ini seperti debat cerdas cermat saja.

“ Konsep yang dipaksaka seperti ini berkesan seperti sedang mengadakan cerdas cermat saja, biarpun pada grafik terlihat adanya kenaikan saat Ahok dan Anies menyampaikan konteks konsep mereka,karena kedua orang ini sangat mengerti tentang konsep psikologis pada debat yang di adakan ini,” jelas Yunarto

Advertisements