setya-novanto_golkar.jpg

Setya Novanto, Ketua Umum Partai Golkar akan mengevaluasi kembali seluruh proses dan hasil Pilkada DKI Jakarta. Mengingat pasangan calon yang diusungnya, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, mengalami kekalahan dalam hasil hitung cepat pada putaran kedua.

“Kekalahan ini sendiri terjadi akibat dari persoalan yang tidak harus dipersoalkan,” ujar Novanto saat dirinya ditemui di kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis 20 April 2017. Namun, dia berbesar hati atas kemenangan yang di peroleh Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Kemenangan pasangan calon nomor urut tiga ini disebutnya merupakan pilihan hati nurani rakyat.

“Ini kenyataan yang harus kita terima dan lihat. Ini merupakan pilihan hati nurani rakyat dan semuanya sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya,” kata dia. Terlebih,pemungutan suara putaran kedua pada Pilkada DKI berjalan aman dan tertib. Novanto pun berterima kasih juga kepada seluruh pihak yang turut menjaga jalannya pemungutan suara yang dilangsungkan kemarin. “Tentu kita berterima kasih kepada seluruh aparat TNI, Polri, dan sejumlah pihak yang menjaga keamanan,” kata dia.

Agung Laksono, Ketua Dewan Pakar Golkar mengingatkan lagi agar kader yang mengalami kekalahan menerima kekalahan di Pilkada DKI Jakarta. Lebih baik menjaga kekompakan karena Pilkada 2018 tinggal hitungan bulan.

Hasil hitung cepat oleh empat lembaga survey menunjukan, Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat, calon gubernur dan calon wakil gubernur yang diusung Golkar mengalami kekalahan pada Pilkada DKI. Perolehan suara Basuki-Djarot jauh di bawah pasangan Anies-Sandi dimana selisihnya mencapai 16% hingga 17%.

Menyikapi hasil hitung cepat yang ada Agung meminta, agar para kader Golkar legowo dan tetap kompak. “Tidak usah lagi mencari-cari siapa yang salah,” kata Agung saat ditemui di kompleks DPR, Jakarta Pusat, Kamis 20 April 2017. Menurut dirinya, Pilkada DKI Jakarta ini menjadi pembelajaran bagi partai berlambang pohon beringin itu selanjutnya. Setelah ini akan ada Pilkada 2018, lalu Pilpres 2019.

Agung juga berharap bagi seluruh pengurus partai nantinya bisa menjaga loyalitas dan tidak membuat polemic polemic yang baru. Apapun keputusan partai pada Pilkada 2018, sudah melalui proses demokratis. “Harus dipatuhi dan harus loyal pada keputusan baik oleh pengurus, dewan pembina, kader, dewan kehormatan, dewan pakar. Dan harus dapat menjadi contoh ke bawah,” ungkap dia.

Keputusan Partai Golkar dalam memilih calon pemimpin mempertimbangkan elektabilitas dan hasil survei. Partai Golkar tidak menunjuk calon pemimpin berdasarkan hubungan pertemanan dan iming-iming imbalan. “Dengan demikian, kita bisa mempertahankan hasilnya  seperti pada Pilkada 15 Desember 2015 lalu,” pungkas Agung.