ekonomi_-_menuruti_gendang_kapitalis_global-1024x539.jpg

Munculnya teknologi keuangan (fintech) layanan telah menjadi katalis alami bagi penyedia layanan keuangan tradisional untuk berinovasi dan mengubah cara mereka menjalankan bisnis.

Perbankan konsumer serta layanan transfer dan pembayaran merupakan sektor yang diprediksi akan mendapat pukulan terbesar sejak munculnya fintech. Laporan PricewaterhouseCoopers 2016, misalnya, membahas bagaimana transisi ini dapat mempengaruhi spread margin dan menyebabkan kerugian pangsa pasar serta ancaman informasi dan privasi. Penyedia layanan tradisional juga diharapkan bisa melihat penurunan jumlah konsumen.

Keprihatinan seperti itu menimbulkan pertanyaan: Apakah lembaga keuangan konvensional menjadi lebih rapuh dengan munculnya penyedia fintech? Sebaliknya, apakah perusahaan fintech siap bersaing dengan penyedia layanan keuangan mapan?

Sebagai industri yang matang, sektor perbankan melihat daya saingnya bergantung pada ketersediaan fasilitas dan teknologi yang mapan untuk melayani pelanggan. Namun, bank-bank, yang beroperasi di bawah lingkungan yang sangat teratur, cenderung merespons perubahan dengan lebih hati-hati.

Dengan meningkatnya popularitas teknologi digital, pelaku industri fintech telah muncul untuk menyediakan layanan seluler dan non-tatap muka bagi pelanggan.

Dengan potensi tersebut, kolaborasi antara bank dan perusahaan fintech cenderung terjadi. Berdasarkan survei yang dilakukan International Financial Corporation (IDC) Financial Insights, satu dari tiga bank siap untuk berkolaborasi dengan perusahaan fintech, dan seperempat dari mereka ingin mengakuisisi perusahaan fintech.

Di Indonesia saja, industri fintech mendapat dukungan positif dari regulator. Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), misalnya, telah mengeluarkan beberapa peraturan mengenai transaksi yang difasilitasi oleh perusahaan fintech untuk mendorong ekosistem yang lebih solid. Bank sentral juga telah meluncurkan kantor khusus untuk membantu pertumbuhan industri fintech.

Bank sekarang menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan kolaborasi dengan perusahaan fintech dalam upaya untuk menawarkan pengalaman pelanggan yang optimal. Salah satu skema keterlibatan bank dalam kolaborasi fintech adalah melalui kemitraan investasi yang melibatkan perusahaan Capital ventura (VC). Perusahaan VC dapat berinvestasi di perusahaan fintech untuk membuka kolaborasi dengan bank, sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat dan melengkapi keseluruhan ekosistem finansial.

Bentuk kolaborasi lain antara bank dan perusahaan fintech adalah mengenai aksesibilitas Application Programming Interface (API). API adalah seperangkat perintah, fungsi dan protokol yang digunakan oleh programmer saat mengembangkan perangkat lunak untuk sistem operasi tertentu. API memungkinkan pemrogram untuk memanfaatkan fungsi standar yang berinteraksi dengan sistem operasi yang diberikan. Di perbankan, API memungkinkan kondisi di mana bank dan perusahaan fintech dapat bertukar data sambil memastikan tingkat keamanan yang tinggi.

Pembukaan akses API untuk perusahaan fintech berpotensi meningkatkan bisnis selama keamanan perbankan terjamin. Kenyataannya adalah, dalam waktu dekat, semua uang bergerak secara digital, membuat keterbukaan data menjadi kebutuhan yang tak terelakkan di industri perbankan. Aksesibilitas API akan memungkinkan perusahaan fintech untuk menyediakan pemrosesan dan analisis data yang lebih baik, serta proses pengambilan keputusan yang lebih cepat.

API terbuka juga dapat mendorong penyediaan layanan yang disesuaikan untuk berbagai segmen pasar. Melalui API terbuka, lebih banyak layanan dapat dikembangkan untuk transfer dana dan informasi saldo akun, antara lain.

Dengan demikian, kolaborasi merupakan kunci yang akan memacu pertumbuhan sektor perbankan dan fintech. Melalui kolaborasi, fintech start-up dapat berfokus pada pemecahan masalah, sementara bank dapat berbagi pengetahuan mereka mengenai industri keuangan, termasuk bagaimana menghadapi rintangan hukum dalam penyediaan layanan fintech. Untuk memastikan ekosistem yang sehat, juga harus ada panduan yang jelas untuk mengatur kerja sama antara bank dan penyedia layanan fintech.

Advertisements